• Aliansi Zero Waste Indonesia

Kelola Limbah Qurban Cegah Pencemaran Lingkungan

Diperbarui: Agt 3

Penulis: Rusydan Fauzi Fuadi


Hari Raya Idul Adha telah tiba, pekik takbir menggema di seantero semesta. Itu artinya setiap hewan qurban yang memenuhi persyaratan syariat akan dikurbankan dan kemudian dagingnya dibagikan kepada yang berhak menerima. Idul Adha di tahun pandemi corona ini berbeda dengan tahun sebelumnya, tak ada lagi rombongan jamaah haji Indonesia dan seluruh dunia pergi ke tanah Haram. Seluruh calon jamaah haji tentu sangat terpukul dengan adanya pandemi karena telah melumpuhkan hampir seluruh hajat hidup manusia dari mulai urusan ekonomi hingga ibadah.


Idul Adha secara umum disebut juga sebagai Idul Qurban atau hari raya berkurban. Hewan yang dapat dikurbankan berdasarkan syariat Islam meliputi kambing, domba, unta, sapi hingga kerbau. Ada syarat hewan yang dikurbankan harus cukup umur dan dalam kondisi sehat. Prosesi berkurban umum dilakukan pasca pelaksanaan sholat Idul Adha hingga 3 hari setelahnya (hari Tasyriq).


Ada dua hal yang biasanya luput diperhatikan oleh penyelenggara proses berkurban terkait masalah lingkungan hidup. Pertama, penggunaan kantong plastik sekali pakai sebagai pembungkus daging. Dalam satu masjid diperkirakan ada sekitar 900 paket daging yang dibagikan ke warga sekitar. Jumlah itu akan sangat besar melihat jumlah masjid Menurut data Dewan Masjid Indonesia (DMI) ada lebih dari 800 ribu masjid. Penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pembagian hewan qurban harus ditinggalkan. Saatnya kembali menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti daun jati, daun pisang hingga besek bambu.


Kedua, prosesi qurban menghasilkan limbah berupa kotoran, darah dan bagian lain yang tidak dimanfaatkan dari hewan qurban. Limbah darah hewan qurban umum ditimbun dalam tanah. Adapun limbah kotoran dan bagian tubuh hewan dibuang ke sungai atau aliran air saat proses pencucian. Pembuangan limbah qurban akan mencemari sungai dan aliran air karena kandungan bakteri seperti E. Coli. Bakteri ini menyebabkan penyakit diare. Pembuangan limbah qurban ke sungai atau aliran juga bisa berdampak pada penurunan kualitas sungai.


Kelola Limbah Qurban Atasi Pencemaran

Menurut penulis, perlu perhatian khusus melalui edukasi dan contoh praksis agar kedepan petugas qurban tidak lagi membuang limbah ke perairan. Contoh baik pengelolaan limbah qurban dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Diberitakan oleh republika.co.id, Pemerintah Kota Surabaya menginstruksikan kepada panitia qurban agar limbah hewan qurban seperti darah dan kotoran dikumpulkan terlebih dahulu. Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) akan mengambil limbah tersebut. Masyarakat secara mandiri dapat mengumpulkan limbah qurban ke UPTD DKRTH terdekat.


Kebijakan pengelolaan limbah qurban Pemkot Surabaya yang diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2019 dapat menjadi contoh pemerintah daerah lain yang belum menerapkan larangan pembuangan limbah qurban di sembarang tempat. Pengaturan melalui kebijakan daerah minimal dapat menjadi landasan untuk pengaturan pengelolaan limbah qurban yang lebih berwawasan lingkungan.


Tahapan pengelolaan limbah qurban tidak berhenti di pengumpulan. Pasca pengumpulan, limbah qurban dalam bentuk kotoran hewan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan biogas dan pupuk organik. Pemanfaatan ini mengurangi dampak pencemaran lingkungan dan menekan kebutuhan bahan bakar gas dan pupuk organik.


Pembuatan Pupuk Kandang dan Biogas dari Limbah Qurban

Limbah hewan qurban terutama kotoran sapi dapat dikelola terlebih dahulu. Pengolahan limbah kotoran sapi dapat dijadikan biogas dan pupuk organik padat.


1. Pembuatan Pupuk Organik atau Kandang

Bahan: Kotoran sapi atau kambing, jerami padi (cacah), EM4, dan terpal atau bahan lain sebagai penutup.

Prosedur kerja pembuatan pupuk kompos:

  1. Aktifkan terlebih dulu EM4 dengan larutan gula (3-4 sendok gula untuk 1,5 liter air) lalu tambahkan 2-3 sendok EM4, kocok dan biarkan semalaman.

  2. Buat perbandingan antara kotoran sapi dan jerami padi, idealnya 60:40. Jadi jika kotoran sapi yang digunakan adalah 60 kg, maka sisanya adalah jerami.

  3. Campurkan jerami dan kotoran sapi dengan jerami cacah aduk sampai merata, kemudian hamparkan campuran tersebut dan sirami secara perlahan dengan larutan EM4.

  4. Tutup campuran bahan tersebut dengan terpal dan beri beban di sekitar terpal agar tidak mudah terbuka.

  5. Proses pengomposan memakan waktu sekitar 30 hari yang ditandai dengan suhu panas di permukaan bakal kompos. Selama waktu ini, Anda dapat mengaduk-aduk bahannya 3 hari sekali untuk membantu proses aerasi.

  6. Tanda pengomposan sudah selesai adalah saat suhunya tidak tinggi lagi.


2. Pembuatan Biogas

Seperti dikutip Abdul Mukhlis Ritongga, et.al dalam jurnal Desiminasi Teknologi Biodigester Skala Rumah Tangga untuk Menghasilkan Biogas dari Limbah Peternakan (2018). Berikut panduan cara fermentasi limbah hewan qurban menjadi pupuk biogas ramah lingkungan.


Alat: Drum plastik, selang serabut, kran air 1/2 Inchi dan 4 Inchi, knee 4 Inchi, plastik penampung biogas (2.500 L), cabang segitiga, water trap, kompor biogas, manometer sederhana, pemantik api, naungan untuk digester, dan lem.

Bahan: Kotoran sapi dan air.


Prosedur Kerja Pembuatan Unit Biogas

  1. Membuat atau membuka ujung dari kedua drum

  2. Membersihkan bagian dalam drum dari kotoran yang menempel

  3. Memasang penyaluran gas dari pipa besi yang disatukan dengan drum kecil, kemudian memastikan bahwa pemasangan sudah tepat dan tidak bocor.

  4. Memasang kran pada pipa penyalur yang digunakan untuk menjamin kekedapan udara.

  5. Drum yang sudah terpasang pipa dan kran penyalur tersebut diuji kebocoran dengan mengisi drum dengan air.

Pelaksanaan Kegiatan

  1. Unit biogas yang sudah jadi kemudian diisi substrat kotoran sapi dengan perbandingan 50:50.

  2. Dapat ditambahkan dengan limbah rumah tangga seperti sampah organik seperti sisa sayuran, dan lain-lain.

  3. Diamkan selama beberapa hari hingga gas terbentuk.

  4. Gas pertama yang terbentuk harus dibuang karena masih mengandung udara.

  5. Pembentukan gas selanjutnya sudah siap digunakan untuk keperluan memasak dan lain-lain.

Pemanfaatan sumber daya alam harus dengan bijak. Kita berkewajiban menjaga alam agar tetap bisa menopang seluruh kebutuhan manusia dan generasi penerus yang akan datang.


Referensi:

https://paktanidigital.com/artikel/mengolah-kotoran-sapi-pupuk-organik/#.Xxvw0xKFbqA

https://m.republika.co.id/berita/pw0i06349/warga-diimbau-tak-buang-limbah-kurban-sembarangan

Abdul Mukhlis Ritonga, et.al, 2018. Desiminasi Teknologi Biodigester Skala Rumah Tangga untuk Menghasilkan Biogas dari Limbah Peternakan. Berdikari: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 1 No. 2, 54-59.


Biodata Penulis

Lahir di Lamongan dan berdomisili di Samarinda. Ia menjadi jurnalis lepas dan editor di kaderhijaumu.id

0 tampilan

AZWI Indonesia

Anggota

Berita Terbaru

Temukan Kami 

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Basic Square
  • Instagram Social Icon
  • YouTube

© 2016-2020 Aliansi Zero Waste Indonesia Re-Desain By AraDev