© 2016-2018 Aliansi Zero Waste Indonesia

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Basic Square
  • Instagram Social Icon
Please reload

Recent Posts

Mengapa Kami Menggugat Perpres Percepatan PLTSa?

September 13, 2016

1/2
Please reload

Featured Posts

Gerakan Anak Muda Masa Kini Dalam Menangani Polusi Plastik

Tepat pada hari ini, 90 tahun yang lalu, pergerakan  anak muda menghasilkan ikrar yang disebut sebagai “Sumpah Pemuda” demi menciptakan cita-cita bersama dalam mendirikan negara Indonesia. Cita-cita tersebut akhirnya terwujud 73 tahun yang lalu yang hingga saat ini kita peringati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Namun, apakah negara ini telah merdeka seutuhnya?

 

Dalam konteks polusi plastik yang saat ini sedang menjadi isu global, negara kita masih belum dikatakan “merdeka”. Mengapa bisa begitu? Sebagai contoh, permasalahan plastik yang kita hadapi sehari-hari ditunjukkan dengan sebuah riset yang menyebutkan bahwa sebanyak 30 botol sampel Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dari Indonesia yang dianalisa di University of New York at Fredonia (2018) mengandung mikroplastik dengan rata-rata 382 mikroplastik partikel/liter. Tidak hanya dalam AMDK, penelitian Ecoton (2018) menunjukkan sebanyak 72% sampel ikan-ikan dengan 6 spesies yang diteliti di Kali Surabaya mengandung mikroplastik dalam lambungnya.

 

Lalu, apa hubungannya anak muda dengan permasalahan plastik tersebut? Tentunya ini berhubungan dengan bagaimana anak muda memiliki semangat yang besar dalam mendorong adanya perubahan. Jumlah penduduk pemuda yang besar dapat menjadi potensi kekuatan, tetapi dapat juga menjadi sumber kelemahan. Hal ini bergantung pada bagaimana penduduk pemuda ini dipandang, diperlakukan, dan dipersiapkan. Bonus demografi, di mana proporsi jumlah pemuda lebih besar, misalnya, akan membawa dampak positif bila kelompok pemuda dikembangkan dari segala aspek, utamanya pendidikan, kesehatan, pasar kerja, partisipasi ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Dalam kalimat lain, manfaat bonus demografi akan tergantung pada apa dan seberapa besar investasi ditanamkan pada generasi ini.

 

Oleh karena itu, perlu diatur bagaimana kita bisa menjadi mitra bersama anak muda dalam memecahkan permasalahan plastik tersebut. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) memiliki program pendampingan terhadap siswa/i tingkat sekolah menengah atas dalam mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan dalam memecahkan permasalahan lingkungan hidup, khususnya polusi plastik. Dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda di tahun 2018 ini, PPLH Bali dan GIKDP yang merupakan anggota daripada Aliansi Zero Waste Indonesia menyelenggarakan bersih-bersih pantai, atau yang biasa dikenal dengan beach clean up, di Pantai Segara Ayu hingga Pantai Werdhapura, Bali. Kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka menyambut Our Ocean Conference yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali pada 29-30 Oktober 2018.

 

 

 

Acara ini juga dilakukan untuk membuktikan bahwa sampah-sampah plastik yang seringkali ditemukan ketika bersih-bersih pantai harus dikurangi bahkan dicegah penggunaannya. Kantong plastik, popok bayi, sedotan, styrofoam, dan lain sebagainya yang dikenal sebagai plastik sekali pakai banyak ditemukan ketika melakukan bersih-bersih pantai. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi anak muda, karena dengan semangatnya yang tinggi untuk menjadi agen perubahan, anak muda bisa menemukan jalan untuk menangangi permasalahan tersebut. Sebagai contoh, SMA 1 Kuta Utara dan SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar yang melakukan program pengurangan sampah plastik dengan mengampanyekan penggunaan botol air minum guna ulang sebagai bagian dari pelarangan penggunaan AMDK di sekolah dan mengganti wadah ziplock platik sekali pakai yang biasa digunakan sebagai wadah obat-obat dengan wadah pot obat-obat yang bisa digunakan berulang kali.

 

Kedua sekolah tersebut merupakan peserta program Envirochallenge 2018 yang digagas oleh GIDKP dan mengaku bahwa apa yang mereka sedang lakukan ini terbantu dengan adanya komitmen dari Pemerintah Kota Denpasar yang telah mengeluarkan Peraturan Walikota dalam melarang penggunaan kantong plastik yang efektif akan berlaku tanggal 1 Januari 2019. Peraturan tersebut menjadi dasar bagi kedua sekolah untuk mendorong para pemangku kepentingan yang ada di dalam sekolah untuk memiliki komitmen yang lebih kuat dalam mengurangi sampah plastik.

 

 


 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us
Please reload

Search By Tags